Sejarah Open Source Indonesia

 

Bagian  ini  akan  mengkaji  rangkaian  peristiwa  yang  pernah terjadi milenium yang lalu di Indonesia. Banyak kejadian pada saat  tersebut  yang  tidak  terdokumensi  secara  sistematis,  sehingga tulisan ini diharapkan sudah cukup untuk memberikan  gambaran perihal rangkaian kejadian pada saat tersebut. Hingga  1970-an,  perangkat  keras  komputer  berbentuk  main  frame atau mini yang dikelola oleh sebuah tim yang eksklusif di dalam  sebuah  “ruang  kaca”  yang  steril.  Populasi  komputer secara keseluruhan sangat sedikit berhubung harganya sangat  mahal. Pemeliharaan instalasi komputer dipercayakan kepada  agen  pemasok (supplier),  sehingga  supervisi  kepemilikan perangkat lunak dapat dilakukan secara relatif ketat. Walau pun demikian,  terkandang  para  pemasok  tersebut  meminjamkan perangkat lunak tanpa seizin pemilik lisensi.

Tahun 1980-an ditandai dengan kemunculan komputer Apple II berbasis 6502 /1 MHz dengan opsi tambahan prosesor Zilog Z80/ 2 MHz. Komputer  ini  menggunakan  media  penyimpanan  disket  yang  mudah  digandakan,  sehingga  memudahkan  pendistribusian  perangkat  lunak  Public  Domain (PD)  maupun  Shareware. Namun, media disket ini pun menyebabkan kehadiran perangkat  lunak tanpa lisensi yang sering diberi istilah perangkat lunak bajakan. Pola  penggunaan  perangkat  lunak  tersebut  dilanjutkan  pada  saat kehadiran PC berbasis Intel 8088 (16 bit / 4.77 MHz / PC /  MS-DOS), serta work-station Unix berbasis Motorola 68k (32 bit).  Jika  sebelumnya  bentuk  pendistribusian  dalam  bentuk  biner, pada  sistem  berbasis  unix  juga  disertakan  source  code  dari program tersebut.

Selain  dengan  media  magnetik,  pendistribusian  juga  mulai  dilakukan melalui jaringan secara online (ARPAnet), atau secara  batch (usenet)  dengan  newsgroup  seperti  comp.source.unix,  alt.source,  dll.  Penyertaan  source  code  dan  pendistribusian  melalui jaringan ini merupakan cikal bakal tradisi Open Source  Software. Tema  penelitian  bidang  ilmu  komputer  pada   1980-an  ini mencakup pemodifikasian dan pem-porting-an perangkat lunak  jenis  Public  Domain.  Motivasi  penggunaan  Public  Domain  ini  tersebut  bukan  berdasarkan  moral,  melainkan  kepraktisan belaka  yaitu  meneruskan/mengikuti  trend  penelitian  di  luar  negeri. Beberapa perangkat lunak yang digunakan pada waktu  itu seperti GCC Compiler untuk Unix, UUCP, CNEWS 2.11, X.400  EAN, Silicon Compiler, Cross Compiler (Modula 2, Pascal), UIUC  Notes, dan lain sebagainya.

Menjelang akhir 1980-an dan awal 1990-an, hadir perangkat PC  yang  cukup  canggih (i486)  yang  dilengkapi  sistem  operasi seperti SCO Xenix dan SCO Unix. Selain stabil, sistem operasi  tersebut  mendukung  berbagai  jenis  perangkat  keras  dan  perangkat  aplikasi  bisnis.  Namun  kekurangan  dari  sistem  tersebut  diantaranya  lisensi  yang  mahal  sehingga  kembali  menjadi  sasaran  “pembajakan”.  Selain  itu,  tanpa  penyertaan source-code berakibat sistem operasi tersebut sulit dimodifikasi/  fine tuning.

Pada tahun 1991, Linus Torvalds memperkenalkan kernel Linux melalui  newsgroup  “comp.os.minix”  yang  disambut  secara antusias oleh komunitas programer. Namun tidaklah demikian sambutan dari kalangan dunia usaha, berhubung kernel tersebut masih  kurang  stabil  serta  tidak  didukung  oleh  perangkat asesoris  yang  memadai.  Setahun  kemudian,  Paulus  Suryono Adisoemarta dari Texas, memperkenalkan distribusi SLS dengan kernel versi 0.9 kepada masyarakat Indonesia. Sayang  sekali,  versi  tersebut  pada  saat  itu  masih  memiliki  beberapa  kelemahan,  terutama  dalam  mendukung  perangkat  keras seperti ethernet board dan serial board.

Pada tahun 1994,  diperkenalkan  distribusi  Slackware  dengan  kernel  versi 1.0.8kepada   masyarakat   akademika   di   Universitas   Indonesia. Distribusi ini sudah mendukung TCP/IP serta X11R4. Slackware menjadi populer di kalangan para mahasiswa UI, karena pada waktu itu merupakan satu-satunya distribusi yang ada. Secara bersamaan,  Linux  mulai  digunakan  pada  salah  satu  mesin operasional IPTEKnet, yaitu MIMO. Bersamaan dengan pengenalan distribusi ini, Internet komersial mulai  hadir  di  Indonesia.  Sustainable  Development  Network Indonesia  dapat  dikatakan  merupakan  merupakan  proyek  pertama  (1994)  yang  menggunakan  Linux  di  luar  komunitas  riset/    pendidikan. Distribusi yang digunakan ialah Slackware (kernel 1.0.9) pada mesin 486 33Mhz, 16 Mbyte RAM, 1 Gbyte disk,  serta  leased-line  ethernet  10  Mbps  ke  IndoInternet.

Setahun  kemudian (1995),  IndoInternet  berhasil  diyakinkan untuk mulai mengadaptasi sistem Linux. Sistem pertama yang digunakan  untuk  operasional  merupakan  router  dengan  tiga ethernet board (kakitiga.indo.net.id) yang digunakan untuk mensegmentasi  intranet  mereka.  Selain  itu,  sistem  pendaftaran domain “.ID” pun sudah menggunakan mesin Linux. Tanda-tanda aktivitas Linux pun mulai bermunculan serentak di  mana-mana  pada  tahun  1995  tersebut.  Bambang  Nurcahyo  Prastowo  memperkenalkan  distribusi  S.u.S.E  4.4.1      (kernel 2.0.29) pada masyarakat Yogyakarta. Sebuah milis Linux pernah  dirintis  pada  tahun 1996,  namun  gagal  karena  kekurangan inersia.  Setahun  berikutnya,  dapat  dikatakan  sebagai  tahun kebangkitan Linux Indonesia. Sebuah milis kembali terbentuk, yang diikuti oleh berbagai InstallFest, lokakarya, seminar, serta publikasi  berturut-turut  di  media  KompuTek,  Mikrodata,  dan InfoKomputer. Kelompok Pengguna Linux Indonesia (KPLI) pun menjamur di berbagai kota di Indonesia. Kesuksesan   Linux   di   Indonesia   merupakan   sinergi   dari sekurangnya 4 (empat) faktor yang akan diungkapkan dalam tulisan berikut ini. Pertama,   diperlukan     provokator     yang    bertugas memperkenalkan sistem Linux melalui milis, seminar, dst. Yang bersangkutan  ini  tidak  harus  seorang  pakar  Linux  ataupun terlibat langsung di lapangan. Provokasi ini akan berpengaruh positif terhadap opini masyarakat. Sebaliknya, sifat kepriyayian ─seperti asyik bermain sendiri di menara gading─ berpotensi sebagai faktor penghambat penyebaran Linux. Kedua, pendekatan tidak cukup satu arah bottom up ataupun  top  down,  namun  harus  ada  timbal  balik  antara  keduanya.  Provokasi sehebat apapun tidak akan bermanfaat, jika tidak ada  “bahan  bakar” (dukungan)  yang  cukup.  Harus  juga  disadari bahwa  tidak  semua  gagasan  akan  sukses,  dan  tidak  semua kejadian dapat diprediksi secara presisi sejak awal. Ketiga, harus ada motivasi jelas dan kuat, dan bukan hanya sekedar  retorika  serta  semboyan  kosong.  Linux  menawarkan solusi murah meriah, yang mendapatkan sambutan positif dari para kelompok generasi muda yang pragmatis. Terakhir,  suasana  dan  event  yang  mendukung.  Linux  mulai  marak   pada   tahun 1997   seiring   dengan   peningkatan kepopuleran internet di Indonesia (pra krismon). Inersia yang   cukup akan membangkitkan reaksi rantai.

Semakin  banyak  yang  menggunakan  Linux  berarti  semakin  sedikit yang tidak menggunakan. Populasi pengguna linux yang  banyak akan menarik pengguna yang lebih banyak lagi. KPLI  yang muncuk dibentuk di sebuah kota dapat mendorong proses  pembentukan KPLI di kota berikutnya. Selain itu, pengembangan Linux ini mendapat dukungan teknis secara gotong royong melalu milis.

Pada periode 1991 – 1994, kegiatan penyebaran Linux  kurang  mendapatkan  sambutan.  Dalam kondisi  demikian,  provokasi  secanggih  apa  pun  tidak  akan banyak berpengaruh. Baru mulai 1994, motivasi penggunaan  Linux meningkat sebagai alternatif terminal X11 yang murah  meriah.  Setahun  kemudian,  Linux  bahkan  mulai  digunakan secara operasional di sebuah penyelenggara Internet komersial. Selama periode 1994 – 1997 ini, momentum penggunaan Linux  dalam keadaan sangat kritis yaitu: memiliki peluang sama untuk  sukses ataupun gagal. Dukungan institusional (top down) dari  Universitas Indonesia membantu menstabilkan momentum ini,  namun tidak sampai menjadi faktor utama kesuksesan Linux di  Indonesia!  Justru,  motor  dari  kesuksesan  Linux  ialah  para  profesional muda yang terjun ke bidang Internet pasca 1997. Sayang  sekali,  gerakan  Open  Source  Software  sementara  ini  baru berhasil di lingkungan teknis, sementara lingkungan bisnis  masih  belum  tertarik  untuk  menggunakan  Open  Source  Software.  Diperlukan  usaha  ekstra  untuk  memajukan  sektor  office  automation  ini.  Masalah  ini  tidak  dapat  hanya  diatasi  secara  bottom-up.  Dukungan  pimpinan  dibutuhkan  untuk  mendorong   pengurangan   secara   bertahap   penggunaan  perangkat lunak yang dianggap tanpa lisensi sah. Dukungan top-down ini perlu ditunjukkan dengan mengangkat  CIO (Chief  Information  Officer)  yang  memiliki  komitmen  terhadap Open Source Software. Tidak dapat dipungkiri, bahwa  usaha ini membutuhkan pengalokasian sumber daya manusia  dan biaya yang tidak sedikit. Diperlukan pula unsur kolaborasi  karena banyak hal yang tidak bisa dikerjakan sendiri. Dukungan  secara  grass-root/bottom-up  akan  membantu  terbentuknya  Masyarakat  Digital  Gotong  Royong (MDGR)  yang  bersifat informal. Jika negara-negara yang sedang berkembang ini memanfaatkan  Open   Source   Software,   dengan   sendirinya   berarti   tidak  menggunakan perangkat lunak yang berlisensi. Menurut I Made  Wiryana,  inisiatif  penggunaan  Open  Source  Software  dapat  dimulai oleh para pendidik bidang teknologi informasi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s