Pemanfaatan Open Source Software

 

 

Open  Source  Software  memberikan  posisi  yang  unik  kepada para developer dan penggunanya. Begitu juga perusahaan yang terlibat pada bisnis Open Source Software akan memiliki relasi yang  berbeda  dengan  para  pengguna.  Sebagai  contoh  pada kasus pengungkapan suatu bug atau kesalahan. Tidak seperti produk closed source yang cenderung menutupi masalah    sekuriti    sistem    hingga    ada    orang    yang membongkarnya;  pada  open  source,  programmer  di  luar kelompok diperkenankan untuk melihat source code sebelum terjadi “crash”,  dan  melakukan  perbaikan  segera  terhadap perangkat lunak tersebut.

Sebagai  contoh,  kelemahan  dari  model  sekuriti  Microsoft  Windows terbuka setelah adanya virus Melissa, tapi tanggapan  dari perusahaan relatif lama setelah adanya kasus. Mereka tidak  pernah memberikan peringatan akan kemungkinan hal ini dapat  terjadi. Dengan  open  source  software  biaya  untuk  perbaikan  dapat  dikatakan  mendekati  nol.  Waktu  yang  dibutuhkan  untuk  mendeteksi  dan   memberbaiki  kerusakan   juga  berkurang. Dengan demikian user pada pola Open Source Software memiliki posisi yang penting dan dapat menentukan arah perkembangan perangkat lunak. Pengguna  memperoleh  posisi  yang  berbeda  pada  pendektan  Open  Source  ini.  Juga  sebagai  co-developer.  Hal  ini  sejalan  dengan terjadi pergeseran masyarakat pengguna saat ini yang  bergeser dari “consumer society” ke “user society”. Solusi tidak  saja berasal dari para vendor tetapi dapat juga dari user.

Pola Open Source Software ini menimbulkan pergeseran struktur kekuatan, yang tadinya berada di tangan “penjual perangkat lunak” sekarang condong ke tangan para pengguna. Sehinggga timbul  peletakkan  posisi  ulang,  dalam  arti  kompetisi  untuk memberikan kualitas, utilitas dan juga mencegah memperoleh keuntungan dari manipulasi yang diperoleh melalui perangkat distribusi,  pola  pemasaran,  batasan  lisensi  dan  perjanjian dengan penyedia perangkat keras. Kasus perjanjian OEM antara vendor perangkat keras dan perangkat lunak menjadi contoh nyata dari ketakberdayaan konsumen. Open Source Software juga secara otomatis menyediakan suatu lingkungan  pendidikan  yang  lebih  baik,  yaitu  menyediakan source   code   yang   memungkinkan   pengguna   melakukan modifikasi sesuai dengan kebutuhannya. Dengan  dimanfaatkannya  Open  Source  Software  secara  luas  akan  memberikan  berbagai  keuntungan,  misalnya  dari  segi  sosial masyarakat yaitu user dapat saling berbagi penggunaan  dengan pengguna lainnya atau komunitas secara luas, dapat  berkembangnya dukungan lokal dan user akan terpacu untuk  memenuhi   kebutuhan   sendiri   untuk   dukungan   teknis,  memodifikasi perangkat lunak untuk kepentingan lokal sangat  dimungkinkan, serta kesempatan bagi tenaga kerja lokal. Open   Source   Software   memberikan   pengguna   kendali  sesungguhnya  terhadap  sistem  operasi  dari  teknologi  yang mereka   gunakan.   Tidak   seperti   lisensi   proprietary   yang membuat suatu pembatas (barrier) untuk menggunakan solusi karena kebutuhan akan negosiasi dan persetujuan. Pada bisnis model Open Source, penyedia jasa menjadi lebih  fokus pada layanan daripada sekedar berjualan lisensi. Jelas ini  membuat terbukanya kesempatan bagi tenaga kerja lokal (TKL)  yang ingin memanfaatkannya. Lokasi yang dekat ke customer  memberikan  kemungkinan  persaingan  harga  dan  pelayanan  yang lebih baik, daripada dengan pemberi jasa dari luar negeri. Pola  Open  Source  Software  memungkinkan  para  pengguna  komputer  dan  para  developer  di  Indonesia  menggunakan  perangkat lunak secara murah dan legal. Citra sebagai bangsa  pembajak dapat dihilangkan dengan menggunakan Open Source  Software.  Hal  ini  disebabkan  sistem  lisensi  yang  diterapkan  Open   Source   Software   memperbolehkan   proses   duplikasi  tersebut.

Dengan  berpartisipasi  dalam  proyek  Open  Source  Software  berarti   programmer   telah   menimba   pengalaman   dengan  berpartisipasi dalam proyek yang berukuran besar. Mereka yang  terlibat  dalam proyek Open  Source  Software  akan  mendapat  “bayaran  tambahan”  berupa  apresiasi  publik,  tukar  menukar  pikiran, pengaruh baik pada metoda disain mendatang. Bagi  perusahaan  yang  ingin  mengontrak  para  pengembang tersebut,  paradigma  Open  Source  Software  menyebabkan mereka tidak perlu repot-repot membuktikan kualifikasi dengan pola konvensional, misal reference, atau proses interview yang memakan  waktu.  Cukup  dari  hasil  kerja  dan  reputasi  dari programmer atau kelompok developer tersebut. Artinya yang menerima keuntungan bukan saja programmer tetapi juga pihak yang ingin mempekerjakan programmer. Secara  umum  model  Open  Source  Software  memberikan  keuntungan utama bagi para pelaku bisnis TI lokal yaitu lebih dekat  dengan  costumer.  Dengan  diterapkannya  Open  Source Software secara luas, akan banyak lapangan  pekerjaan yang terbuka bagi tenaga kerja lokal.

Akan tetapi bila tenaga kerja lokal tidak mempersiapkan diri untuk memberikan service yang baik, dan masih bertumpu pada pola penjualan lisensi, maka akan terjadi hal sebaliknya. Tenaga kerja luar negeri akan kembali merebut kesempatan tersebut. Disinilah   kualitas   SDM   menjadi   lebih   penting   daripada kepemilikan lisensi penjualan. Beberapa   daerah   di   Indonesia   pada   saat   ini   memiliki kemungkinan menerapkan solusi dengan Open Source Software akan  tetapi  ketersediaan  SDM  lokal  menjadi  suatu  halangan untuk menerapkannya. Pada  dasarnya  suatu  perusahaan  akan  lebih  suka  dengan  dukungan  teknis  dari  SDM  lokal,  karena  bisa  sewaktu-waktu  dipanggil ketika terjadi kerusakan. Secara ekonomis perusahan  menjadi rugi kalau harus memanfaatkan SDM non lokal, karena  harus mengeluarkan “overhead cost”, sedangkan lapangan kerja  lokal juga rugi karena tidak bisa memanfaatkan tenaga kerja. Pengakuan keterlibatan dukungan teknis lebih dirasakan pada produk   Open   Source   Software,   sebab   customer   telah memperoleh  perangkat  lunak  dengan  gratis.  Sehingga  nilai keberadaan  dukungan  teknis  akan  jauh  lebih  terasa,  baik melalui  perbaikan,  ataupun  dokumentasi.  Di  sisi  pemberian dukungan teknis inilah SDM lokal dapat memberikan jasanya dengan harga yang lebih bersaing.

Disamping  terbukanya  partisipasi  yang  dapat  dilakukan  oleh  tenaga  kerja  lokal  pada  penyediaan  jasa,  terbuka  juga kesempatan untuk berpartisipasi dalam hal lainnya, misalnya:  menerbitkan  tulisan  dan  buku,  membuat  dokumentasi  dari  program tersebut, mencoba program dan memberikan laporan bug, mendefinisikan requirement dari suatu program, membuat program, mendorong perbaikan SDM, dll. Pola  pengembangan  perangkat  lunak  Open  Source  Software  seperti  pada  GNU/Linux  memberikan  harapan  cerah  untuk  memperkenalkan kemampuan para tenaga kerja TI Indonesia di  pasar dunia. Hambatan-hambatan di atas dapat diatasi dengan  memanfaatkan pola pendekatan Open Source Software, karena  pola   ini   memberikan   kemungkinan   keterlibatan   seorang programmer   pada   Open   Source   Software   yang   akan  meningkatkan  reputasi  tenaga  kerja  TI  Indonesia.  Pada  pola  Open Source Software ini, reputasi lebih dipentingkan daripada  kepemilikan  sertifikasi  dan  pembayaran  menjadi  jaringan  pengembang  ala  pengembang  perangkat  lunak  proprietary.  Dikenalnya  para  pengembang  perangkat  lunak  Indonesia  ini  jauh lebih mudah melalui jalur Open Source Software, tinggal  bergantung pada kemauan dan kemampuan mereka. Keterlibatan tenaga kerja pengembang di dalam pengembangan  Open Source Software ini tidak saja bagi mereka yang bekerja  sebagai   programmer,   tetapi   juga   bagi   mereka   yang  mengerjakan dokumentasi, pelaporan bug, dan lain sebagainya.

Penghargaan  dan  kenaikan  reputasi  terhadap  mereka  yang menyumbangkan patch (perbaikan) atau laporan bug akan lebih diterima, sebab semua akan diumumkan secara terbuka. Tidak tertimbun  secara  tertutup  dalam  dokumentasi  perusahaan pembuat  perangkat  lunak.  Penemuan  bug  mendapat  tempat dalam komunitas Open Source Software, tidak ditutupi seperti halnya dalam pola Closed Source.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s